Jumat, 03 Februari 2012

Sporter Persiwa Tidak Terima Keputusan Wasit !

Yogyakarta (Bem-Papua)- Duel Persija Jakarta Ibukata indonesia “LAWAN” Persiwa Wamena Papua di Yogyakarta terpaksa dihentikan lebih awal. Sebuah keputusan kontroversial wasit yang tidak adil membuat suporter Persiwa marah dan menyerbu lapangan.

Dalam laga di Stadion Mandala Krida, Jumat (3/2/2012) sore WIB, Persija mendapat peluang pada menit kesembilan lewat percobaan Ramdani Lestaluhu. Tapi, tembakan Ramdani dari depan kotak penalti masih terlalu mudah untuk dijinakkan oleh kiper Galih Firmansyah.Memasuki menit ke-28, giliran Octavianus yang mengancam gawang Persiwa melalui tendangan bebasnya. Kali ini, Galih dipaksa terbang untuk menangkap bola.

Tiga menit kemudian, Persiwa balik menekan. Namun, tendangan bebas jarak jauh Eric Weeks masih menyamping.

Kans yang didapat Bambang Pamungkas pada menit ke-40 juga belum bisa membuahkan gol. Tendangan volinya tak mengarah ke gawang Persiwa.

Hingga babak pertama selesai, tak ada gol yang tercipta.

Baru beberapa menit selepas restart, Persiwa mampu mencuri gol. Diawali sebuah sepak pojok, sundulan Yuichi Shibakoya berhasil diteruskan oleh Yesaya Desnam ke gawang Persija.

Persija yang tertinggal kemudian menggempur pertahanan Persiwa. Peluang mereka pada menit ke-67 tak membuahkan hasil karena tembakan Bambang dari luar kotak penalti masih melambung di atas mistar.

Berselang semenit, gawang Persija malah nyaris jebol. Namun, tendangan kaki kiri Boakay Eddie Foday masih melebar.

Pada menit ke-74, sebuah insiden terjadi di lapangan. Insiden ini diawali keputusan wasit Setiyono menghadiahi Persija sebuah penalti setelah Shibakoya dianggap melakukan handball di area terlarang pada hal pelanggaran persebut tidak masuk akal..

Keputusan ini mendapat protes keras dari para pemain Persiwa. Bahkan, sejumlah suporter klub asal Papua ini masuk ke lapangan dan memburu Setiyono. Aparat keamanan pun terpaksa turun tangan dan mencoba mengamankan dia.

Setelah ditunggu hingga beberapa menit, situasi mulai juga kondusif. peryandingan dilanjutkan atau dihentikan. Persiwa sementara unggul 1-0.Dari pantauan terakhir di Stadion Mandala Krida, para pemain kedua tim masih tertahan di dalam stadion. Begitu juga dengan suporter.dalam insiden tersebut tidak ada yang korban baik dari pihak supporter persija maupun persiwa papua.
Hasil keputusan panitia dan pihak persija, persiwa akan melahirkan akan bertangding dalam waktu 15 menit. Pertandingan diawali dengan tendangan finalti. Hasil imbang 1-1. Kemudian pertandingan mulai sampai beberapa menit kemudian persiwa unggul 2-1 tas persija Jakarta sampai usai.
Awalnya, dua suporter Persiwa merangsek masuk ke lapangan berusaha mengejar wasit. Saat pihak keamanan memusatkan perhatian kepada dua suporter tersebut, semakin banyak suporter Persiwa lainnya yang turun ke lapangan dari tribun penonton. Situasi pun tak terkendali, seorang suporter yang masuk terlihat membawa tongkat berukuran sekitar 1,5 meter.
Namun laga akhirnya dilanjutkan kembali setelah terhenti sekitar 30 menit. Bambang Pamungkas yang menjadi eksekutor sukses menyarangkan bola ke gawang Galih Firmansyah, namun Persiwa membalas lewat Eddy Foday Boakkai.
Jalannya pertandingan:
Persija harus melakoni partai kandang di Yogyakarta karena Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, kandang mereka, masih dalam proses perbaikan rumput.
Permainan berjalan dalam tempo cukup lambat di babak pertama. Menurunkan pemain terbaiknya seperti Bambang Pamungkas, Robertinho Pugliara, Ramdani Lestaluhu hingga Ismed Sofyan, Persija menguasai jalannya pertandingan. Namun mereka kesulitan menembus pertahanan lawannya.
Hal yang sama terjadi pada tamunya asal Papua. Tim besutan Gomes De Oliveira lebih fokus pada pertahanan dan mencari celah lewat serangan balik cepat, dimotori Erick Weeks.
Persija melepaskan tembakan pertama ke gawang lawan pada menit kesembilan, lewat tendangan Ramdhani Lestaluhu dari depan kotak penalti masih bisa digagalkan kiper Galih Firmansyah.
Pada menit ke-27, Persija melepaskan tembakan ke gawang Persiwa lewat tendangan bebas Oktavianus, namun bola masih bisa ditangkap Galih.
Sementara itu, lapangan yang keras membuat para pemain kerap merasakan kesakitan tiap terjatuh akibat benturan. Bahkan sebelumnya pemain Persiwa Marchelino Mandagi harus ditarik keluar, digantikan Ade Setiawan, karena tak bisa melanjutkan pertandingan di 15 menit pertama.
Sepuluh menit jelang babak pertama usai, kembali tendangan bebas Oktavianus mengancam gawang Persiwa. Namun bola yang mengarah ke sudut kiri bawah gawang Persiwa masih mampu dihalau kiper lawan.
Bambang Pamungkas mendapat peluang pada menit ke-42, namun tendangan volinya menyambut bola lambung masih melebar. Sementara pada masa injury time, Pugliara mengakhiri penetrasinya ke kotak penalti lawan dengan tendangan menyusur tanah, namun masih dapat ditangkap kiper lawan.
Praktis, selama 45 menit pertama laga Persiwa tidak mampu melepaskan tembakan ke gawang. Hingga wasit Setiyono meniup peluit tanda turun minum skor 0-0 masih belum berubah.
Persiwa mencuri gol saat laga babak kedua baru berjalan satu menit. Sundulan Yesaya Desnam menyambut bola yang berawal dari sepak pojok mampu mengoyak gawang Persija, mengubah kedudukan menjadi 1-0.
Persija mencoba menyamakan kedudukan pada menit ke-67. Pugliara memberikan umpan mendatar kepada Bepe di luar kotak penalti, namun tendangan kapten timnas Indonesia itu masih tinggi di atas mistar gawang.
Insiden terjadi di menit ke-74, saat wasit memberikan penalti akibat pelanggaran yang dilakukan Shiba Koya Yoichi. Pendukung Persiwa yang tidak terima merangsek ke dalam lapangan dan berusaha menyerang wasit. Keadaan semakin buruk sehingga pertandingan terpaksa ditunda.http://www.blogger.com/img/blank.gif
Namun 30 menit kemudian, laga bisa dilanjutkan karena penonton sudah mulai tertib. Bepe sukses menyamakan kedudukan lewat titik putih, mengubah tampilan papan skor menjadi 1-1.Namun tujuh menit jelang laga usai, Persiwa mencetak gol kemenangan lewat Eddy Boakay, menyambut umpan silang. Hasil 1-2 bertahan hingga wasit meniup peluit akhir laga.
Daftar susunan pemain:
Persija Jakarta: Galih Sudaryono; Leo Saputra, Fabiano Beltrame, Precious Emujeraye, Ismed Sofyan; Robertinho Pugliara, Hasyim Kipuw (Amarzukih), Oktavianus (Rudi Setiawan), Ramdani Lestaluhu, Pedro Javier; Bambang Pamungkas.Pelatih: Iwan Setiawan.
Persiwa Wamena: Galih Firmansyah; Yesaya Desnam, Shiba Koya Yoichi, Firly Afriansyah, Isak Konon; Erick Weeks Lewis, Marchelino Mandagi (Ade Setiawan, digantikan lagi oleh Hari Chaniago), O.K John, Richardo Merani; Jaelani Arey, Eddy Foday Boakay. Pelatih: Gomes De Olivera.

Oleh : Umagi

Selasa, 17 Januari 2012

KORUPSI BERAS MISKIN "RASKIN" KABUPATEN JAYAWIJAYA PAPUA

SOLIDARITAS PEDULI MASYARAKAT KABUPATEN JAYAWIJAYAPROVINSI PAPUA

Kabupaten jayawijaya adalah salah satu kabupaten tertua di provinsi papua setela integrasikan ke Indonesia. Seiring dengan perkembangan pembangunan dan dinamika kabupaten jayawijaya telah dimekarkan menjadi beberapa kabupaten di wilayah pengunungan tengah papua. Dalam rangka mempercepat proses pembangunan,kabupaten jayawijaya juga menjadi barometer pembangunan bagi kabupaten pemekaran lainnya namun pada kenyataan,pembangunan di kabupaten pemekaran lebih maju dari kabupaten induk jayawijaya. Hal ini terjadi akibat dari system,prilaku dan kinerja pemerintah jayawijaya sangat melenceng. Dari amanat dan prinsip dasar bagi pembangunan daerah karena kebijakan pemerintah daerah tidak menjawab dan diabaikan sasaran pembangunan pada keberpihakan ,pemberdayaan dan perlindungan terhadap rakyat. Pemerintah kabupaten prilaku premanisme,dengan melakukan diskriminasi kebijakan,pembohongan,penyimbangan,penjekudupan,korupsi,kolusi dan nepotisme. serta menjadi pemerintahan otoriter yang berujung pada korban kebutuhan rakyat.

Contoh: 1. kasus penyeludupan beras miskin (RASKIN) bantuan dari BUMN yang disalurkan kepada masyarakat untuk menjawab kebutuhan pokok.,namun pemerintah mengintervensi dengan melakukan penyeludupan beras miskin (RASKIN),yang sesungguhnya pemerintah melakukan pengawasan dan pengtrolan diabaikan atau pemerintah kabupaten jayawijaya dengan sadar memiskinkan rakyatnya sendiri. Hasil dari penyeludupan beras miskin RASKIN,pemerintah melakukan pemekaran Distrik dan kampung tanpa ada perencanaan yang baik. Disisi lain penempatan SKPD,berdasarkan tim sukses sehingga para intelektual wamena yang lain tersisi dari konsep pembangunan daerah.

Contoh : 2. Watak pemerintah kabupaten jayawijaya yang premanisme melakukan pemukulan para aktivis penegak demokrasi yang berjuang pada pelangarang Hak Asasi Manusia (HAM),juga pemerintah tidak mempunyai hak dan wewenang untuk memberhentikan operasi HAM milik misi katolik.Persoalan diatas pemerintah dengan pandai melakukan pengalihan perhatian public atas dosa pemerintah daerah dengan melakukan pembakaran kantor dinas kependudukan,Dinas social,PU dan Airport wamena. Semua kasus tersebut diatas membuat jayawijaya kehilangan arah dan melumpukan karakter pembangunan daerah maka sangat sulit mewujutkan cita-cita pembangunan nasional serta lebih khusus moto jayawijaya itu sendiri yaitu YOGOTAK HUBULUK MOTOK HANOROGO.

Pelumpuhan pembangunan jayawijaya akan berdapak pada penderitaan,kemiskinan dan pembodohan masyarakat,untuk menjelesaikan persoalan jayawijaya hanya ada satu cara yaitu rakyat harus bersatu untuk menyatakan kebenaran di muka Hukum tanpa memandang ikatan,kepentingan pribadi tapi rakyat harus mengendepankan menjelamatkan jayawijaya sebagai lembah agung yang sedang hancur dari tatanan budaya dan ketidak pihakan pada rakyat.Nilai kebenaran kita bisa lawan tapi tidak bisa dikalakan,karena kebenaran itu abadi. Untuk itu solidaritas peduli pembangunan masyarakat jayawijaya hadir sebagai agen untuk membawa perubahan.

Rabu, 16 November 2011

KRONOLGIS MAHASISWA PAPUA SE JAWA-BALI SAAT INI

1. Kronologis penggeledahan secara sewenang-wenang di Asrama Mahasiswa Papua di Tebet, Jakarta Selatan
Pada pukul 10.00 WIB, seorang anggota provost polisi asal Papua berseragam lengkap yang diketahui bernama Jonatan Korwa datang menggunakan motor. Tanpa mengetuk pintu atau meminta ijin, aparat tersebut langsung mendobrak pintu, masuk dan melihat-lihat seluruh isi asrama. Mahasiswa yang sedang tidur-tiduran di ruang tamu dan kamar tidur terbangun dan kaget dengan kedatangan anggota provost tersebut. Selang lima (5) menit, datang rombongan aparat Polisi dan TNI berjumlah 13 orang dengan menggunakan Mobil dan Motor. Dua (2) orang polisi berseragam lengkap dengan pistol. Satu (1) orang anggota TNI berseragam lengkap dan membawa senjata. Lima (5) orang berpakaian preman dan Lima (5) orang berpakaian safari yang diduga anggota intelijen Polisi/TNI. Mereka, tanpa bertanya dan ijin langsung masuk asrama tanpa melepaskan alas kaki, padahal aturan asrama mengharuskan mencopot alas kaki. Mereka juga tidak menjelaskan tujuan kedatangan. Selain aparat, ikut datang juga dalam pemeriksaan itu, Ketua RT dan beberapa warga sekitar.
Saat itu beberapa mahasiswa sedang pergi ke kampus. Di asrama hanya ada lima mahasiswa. Mereka saat itu dikumpulkan di ruang tengah. Mereka diperintah duduk berbaris berjajar. Kelima mahasiwa itu adalah Paul Waromi, Steven Douw, Charlie Takimai, Edison Pakage dan Feri Douw.
Pukul 10.15 WIB mereka dikumpulkan di ruang tamu. Oleh anggota polisi mereka disuruh menuliskan biodata, seperti nama, umur, tempat dan tanggal lahir, asal kabupaten/daerah, tempat kuliah, alamat di Papua, berapa lama di Jakarta, berapa orang yang tinggal di asrama dan berbagai pertanyaan lain.
Saat mereka sedang ditanyai dan mengisi biodata di ruang tamu, beberapa aparat berpakaian preman berpencar; ke kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang tengah. Mahasiwa tidak tahu persis apa yang mereka kerjakan karena posisi mereka saat itu dalam pengawalan ketat. Yang ditakutkan oleh mahasiswa adalah kalau-kalau aparat mengambil barang-barang mereka ataupun sebaliknya; menaruh sesuatu di kamar atau ruangan lain. Selain itu, Salah seorang aparat berseragam safari memotret semua mahasiwa. Aparat tersebut juga mengambil video seluruh isi kamar sampai dapur. Ketika salah satu satu mahasiwa bertanya mengapa harus diambil gambar padahal mereka bukan teroris, penjahat atau imigran gelap, aparat tersebut hanya mengatakan sedang buat dokumentasi untuk laporan. Saat sedang mengisi data-data biodata, Ketua RT ikut bicara dengan agak gugup. Dia mengatakan jika para mahasiwa ingin mengurus KTP atau kartu-kartu lain, maka mereka harus meminta “surat pengantar” atau “surat keterangan” dari daerah asalnya.
Pukul 10.40 WIB, setelah para mahasiswa menuliskan secara lengkap data dan pertanyaan lainnya di kertas yang disodorkan aparat, data-data itu lalu dibawa polisi. Karena tak terima dengan tindakan seperti ini, salah satu mahasiswa, Charlie Takimai, bertanya “Kenapa perlakukan kami seperti teroris atau pelaku kriminal, datang dengan pasukan lengkap dengan senjata seperti ini. Kami juga tentu malu dilihat tetangga, mereka kira kami melakukan tindakan kriminal, dan tentu saja dapat menimbulkan rasa tidak suka atau marah dari warga sekitar terhadap kami. Jika urusan dengan data-data, bukankah kami bisa berurusan langsung dengan RT disini,” katanya. Polisi hanya menjawab kami membutuhkan data kalian sekarang karena sangat mendesak.
Tepat pukul 11.00 WIB aparat meninggalkan asrama. Saat dilakukan "penggeledahan", warga sekitar banyak yang datang dan ikut menyaksikan dari luar rumah. Sejak penggeledahan itu, para mahasiswa merasa ada banyak orang tak dikenal terus mondar-mandir di sekitar asrama. Selain itu, mereka juga merasa ada beberapa warga sekitar yang memandang curiga atau sinis terhadap mereka.
Daftar Korban dan pelaku:
Korban:
1. Paul Waromi
2. Steven Douw
3. Charlie Takimai
4. Edison Pakage
5. Feri Douw
Pelaku: 14 orang, terdiri dari;
1. Jonatan Korwa, anggota provost polisi berseragam lengkap (asal Papua).
2. Dua (2) orang aparat polisi berseragam lengkap dengan pistol disamping
3. Satu (1) orang anggota TNI juga demikian.
4. Lima (5) orang berpakaian preman
5. Lima (5) orang berpakaian safari (diduga aparat intelijen polisi atau TNI).

2. Pemeriksaan tanpa disertai surat Resmi di Asrama Mahasisaw Putri Papua Bali
Pada Kamis, 3 November 2011 tepat 11:00 WITA. Seorang intel Polda Bali yang mengaku namanya Putu datang ke Asrama Putri Papua JL Dr. Goris Gang Teknik II No 15 Denpasar Bali. Ciri-ciri: Orang asli Bali, logat bicara/bahasa Bali, tinggi besar dan berpakaian rapi, tidak seperti intel kebanyakan yang mahasiswa Papua di Bali kenal selama ini. setelah itu Putu minta semua penghuni menyerahkan indentitas diri katanya untuk keamanan.
Ketua asrama putri (Maria Anni Mokiri) bersikeras untuk tidak memberikan data apapun karna si Putu tidak membawa surat resmi dari polisi secara resmi. Dan menyarankan ke Putu supaya pergi ke banjar (DUSUN/DESA) untuk meminta data penghuni asrama disana, Lalu si putu sempat bilang kalo Saya bisa saja tangkap anda secara halus dan juga secara kasar.
1. Secara kasar : saya slipkan pil (narkoba) k e tas/saku kamu dan menahan kamu dengan barang bukti tersebut;
2. Secara halus : saya datang secara langsung kepada anda untuk memberi data seperti permintaan saya sekarang.
Sempat adu argument dan putu sempat cerita kalo saya bisa saja membuang siapapun ke laut jika melawan saya. Kita bicara dengan pak putu kurang lebih 25 menit, setelah putu pergi selang berapa menit kemudian pak kepala banjar telpon ketua asrama putri meminta data penghuni asrama putri yang baru.


Oleh : John Wetipo

Sabtu, 12 November 2011